Subscribe For Free Updates!

We'll not spam mate! We promise.

Tampilkan postingan dengan label Penyakit Itik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Itik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2014

Berbagai Jenis Penyakit Pada Itik Dan Cara Mengatasinya

Berbagai Jenis Penyakit Pada Itik Dan Cara Mengatasinya
Pada dasarnya penyakit yang menyerang ternak itik dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu : Penyakit tidak menular dan Penyakit menular.

A. Penyakit Tidak menular
Penyakit ini disebabkan oleh buruknya tata laksana pemeliharaan seperti keracunan, pemeliharaan kesehatan dan kebersihan yang buruk, kekurangan vitamin dan mineral dan lain-lain.

1. Stress (cekaman)
Stress atau cekaman pada itik bisa disebabkan oleh berbagai faktor pengganggu yang secara langsung mempengaruhi fisiologi tubuh itik, misalya kebisingan, kurang kebebasan bermain dekat air, berpindah-pindah tempat, pertukaran pakan dan lain sebagainya.
Obat untuk menanggulangi stress belum ada. Yang dapat dilakukan peternak adalah menghidari segala gangguan yang dapat menimbulkan stress yaitu dengan cara memelihara lingkungan dan menjaga kebersihan lingkungan peternakan.

2. Kekurangan Vitamin A
Pakan yang tidak cukup mengandung vitamin A dapat menyebabkan kekurangan vitamin A pada ternak itik dan akhirnya mengganggu pertumbuhan. Tanda-tanda itik yang kekurangan vitamin A adalah : itik akan tampak selalu mengantuk, kondisi kaki lemah, mata tertimbun lendir warna putih dan mudah terkena infeksi. Pada itik umur sekitar 4 minggu itik yang kekurangan vitamin A terlihat selaput matanya menebal dan kering, air mata keluar berlebihan, bagian bawah mata tertimbun cairan lendir. Sedang pada itik dewasa, kekurangan vitamin A mengakibatkan penurunan produksi telur, tubuh mengurus dan lemah.
Jagung kuning merupakan sumber vitamin A yang sangat diperlukan dalam komposisi pakan itik. Penyakit kekurangan (defisiensi) vitamin A umumnya terjadi karena peternak mengganti jagung kuning dengan jagung putih yang miskin vitamin A.

3. Brooder Pneumonia
Penyakit brooder pneumonia umumnya menyerang anak itik yang masih memiliki bulu-bulu halus. Penyakit ini disebabkan oleh karena kotak atau pelingkar tripleks/seng terlalu padat, lampu pemanas untuk induk buatan kurang panas sehingga anak itik kedinginan dan merasa pengap. Tanda-tanda anak itik terserang penyakit ini adalah pembengkakan di kepala, pernapasan terlihat sulit dan mata selalu mengeluarkan air.
Pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan mengontrol kapasitas kotak atau pelingkar dan mengontrol panas induk buatan. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian satu sendok teh baking soda dalam satu quart (1,136 liter) air minum selama 12 jam untuk mengurangi penyebaran penyakit.

4.Rickets Duck (kekurangan vitamin D)
Kekurangan vitamin D yang disertai kekurangan Calsium dan Fosfor dapat menimbulkan penyakit tulang yang menyebabkan kelumpuhan pada itik. Penyakit ini biasanya dinamakan “Rickets duck”. Itik yang terserang penyakit ini akan mengalami penyimpangan dan kelainan pada persendian kakinya.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan pakan yang cukup mengandung mineral calsium, fosfor da vitamin D. Ke dalam ransum itik harus ditambahkan 2% tepung tulang dan itik harus mendapat sinar matahari langsung.

5. Antibiotika Dermatitis

Penyakit ini terjadi pada itik karena penggunaan obat-obatan yang mengandung antibiotika secara berlebihan.
Akibatnya kulit itik menjadi kering , bulu rontok dan mudah patah, itik selalu gelisa karena gatal-gatal pada kulitnya.
Pencegahan terhadap penyakit ini adalah dengan menggunakan antibiotika seperlunya. Penghentian pemberian antibiotika serta pemberian “laxative” (obat pencahar) ringan seperti “molasses” dapat memulihkan kondisi ternak itik yang menderita dalam 4 – 6 hari.

6. Mycosis
Penyakit mycosis pada itik terjadi karena itik secara tidak sengaja mengkonsumsi pakan yang sudah basi atau jamur yang tumbuh di lantai (litter) kandang. Itik yang keracunan jamur terlihat lesu, nafsu makan berkurang dan dalam beberapa hari berat badan merosot tajam. Bila tidak diketahui, itik akan mati dalam waktu seminggu.
Pencegahan dapat dilakukan dengan pemeliharaan kesehatan dan kebersihan kandang yang baik. Lantai kandang secara berkala dijemur dan diusahakan tidak lembab dan diberi kapur terutama pada musim hujan.
Pengobatan penyakit mycosis karena jamur bisa dilakukan dengan memberi antibiotika yang dicampurkan ke dalam air minum atau pakan itik.

7. Botulism

Penyakit botulism (limberneck) pada umumnya terjadi karena itik makan bangkai. Misalnya pemberian makanan daging bekicot yang sudah layu. Bangkai yang sudah berulat mengandung kuman yang berbahaya yaitu “clastrididium botulinium”. Kuman tersebut memproduksi racun.
Tanda-tanda itik yang terserang penyakit ini adalah leher itik seperti tidak bertulang, tidak tegap atau lunglai setelah itik memakan bangkai 1 – 3 hari. Beberapa jam kemudian setelah leher lunglai mengakibatkan kematian.
Pencegahan dilakukan dengan memelihara kesehatan lingkungan yang baik dan tidak memberi pakan yang sudah basi (bangkai). Bila masih memungkinkan ternak itik yang sakit dapat diberikan obat-obatan pencahar agar itik mencret dan kuman beserta racunnya dapat ikut keluar dari saluran pencernaan.
Pengobatan secara tradisional yang dapat membantu menyembuhkan yaitu dengan memberikan minyak kelapa satu sendok makan dan air minum yang bersih. Minyak kelapa akan membuat itik haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya. Jika itik banyak minum, racun dalam darah itik akan encer dan daya kerjanya berkurang, dengan demikian angka kematian dapat dihindari.

8. Keracunan Garam

Penyakit keracunan garam umumnya terjadi bila air itik atau kolam air mengandung kadar garam yang tinggi, juga bila bahan baku pakan tertentu mengandung kadar garam yang tinggi.
Keracunan garam pada itik lebih sering terjadi di lokasi peternakan dekat pantai/tambak yang airnya tercemar garam.
Ternak itik tidak tahan terhdap garam yang berlebihan, konsentrasi 2% saja dalam ransum atau 4.000 ppm dalam air minum dapat menimbulkan kematian terhadap ternak itik.

B. Penyakit Menular
Penyakit menular pada itik merupakan penyakit yang disebabkan oleh : virus, bakteri atau kuman yang dapat ditularkan melalui kontak langsung atau melalui udara.

1. Fowl Cholera (kolera itik)
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri “Pasteurella Avicia”. Kandang yang basah serta lembab dapat mempercepat penularan. Penyakit yang menyerang anak itik umur 4 minggu dapat menimbulkan kematian hingga 50%, sedangkan pada itik dewasa dapat menimbulkan kematian kurang dari 50%.
Gejala penyakit ini adalah : sesak nafas, pial bengkak dan panas, jalan sempoyongan. Itik yang terserang penyakit kolera yang akut akan meratap dan mengeluarkan suara yang nyaring dan keluar dari kelompoknya.
Keganasan penyakit ini dapat menyebabkan infeksi darah dan itik akan mengalami kematian secara mendadak. Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi Fowl Cholera. Pengobatan bagi itik yang terserang pada tingkat awal dapat digunakan obat Choramphenicol, Tetracycline atau Preparat-preparat Sulfat.

2.Fowl Pox (Cacar)
Penyakit cacar ini menyerang itik pada segala umur dan penyebabnya adalah virus. Tanda-tanda penyakit ini adalah dengan munculnya benjolan-benjolan pada bagian badan itik yang tidak tertutupp bulu seperti kaki dan kepala. Penyakit cacar basah menyerang rongga mulut dan bentuk “diptherie” dan kematian terjadi karena itik kesulitan makan dan minum. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksinasi yang disuntikan dibalik sayap itik. Pengobatan cacar kering berupa benjolan-benjolan dapat dilakukan dengan jalan mengelupasi benjolan-benjolan sampai berdarah kemudian diolesi dengan yodium tingture (6-10%).

3. White Eye (Mata Memutih)
Penyakit yang diduga disebabkan oleh virus ini menyerang itik pada segala umur dan yang paling peka adalah itik umur kurang dari 2 bulan. Biasanya itik yang kurang vitamin A mudah terserang penyakit ini. Kandang yang lembab dan lantai (litter) yang basah juga memudahkan itik terserang penyakit ini. Tanda-tanda anak itik yang terserang penyakit ini adalah : cairan putih bening keluar dari mata dan paruh, kotoran yang bening dalam beberapa jam berubah menjadi kekuning-kuningan, itik sulit bernafas, lemah dan akhirnya lumpuh. Bila sampai kejang-kejang, kematian tak bisa dihindari. Pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan daengan antibiotika yang dicampur air minum atau pakan. Antibiotika yang sering digunakan adalah Oxytetracycline (terramycin) atau Chlortetracycline (aureomycins) dengan dosis 10 gram per 100 kg pakan atau 10 gram dalam 40 gallon air minum akan membantu mengontrol penyakit white Eye.

4. Coccidiosis
Coccidiosis adalah penyakit berak darah yang juga menyerang itik, gejala itik yang terserang penyakit ini adalah kurang nafsu makan, berat badan menurun drastis dan akhirnya lumpuh. Penularan melalui kotoran itik yang membawa coccida dan terjadi relatif cepat pada itik segala umur, tetapi yang banyak terserang adalah anak itik.

5. Coryza
Penyakit coryza disebut juga penyakit pilek menular. Penyebabnya adalah semacam mircro organisme. Penyakit ini biasanya terjadi pada awal pergantian musim. Penularannya sangat cepat yaitu melalui kontak langsung antara itik yang sakit dan itik yang sehat. Tanda-tanda itik yang terserang penyakit pilek menular adalah keluarnya kotoran cair kental dari mata. Jadi penyakit ini mirip dengan penyakit White Eye. Anak itik umur 1 minggu sampai umur 2 bulan, merupakan itik yang sering terserang penyakit ini. Akan tetapi itik dewasa pun dapat pula terserang wabah penyakit coryza ini. Pengobatan yang paling efesien adalah dengan menyuntikan “Streptomycin Sulphat” secara individual dengan dosis 0,4 gram rendah dengan patokan berat badannya. Penyuntikan dapat dilakukan sekali dalam sehari selama beberapa hari dengan dosis streptomycin setengah dari dosis di atas.

6. Salmonellosis
Penyakit salmonellosis menyerang itik pada segala umur dan dapat menyebabkan angka kematian hingga 50%. Penyebabnya adalah kuman “Salmonella Anatis”, melalui perantaraan lalat atau makanan atau minuman yang tercemar kuman tersebut.
Pencegahan, dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan dan kebersihan kandang dan secara berkala dilakukan pembersihan kandang agar kandang terbebas dari kuman salmonella. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan “Furazolidone”.

7. Sinusitis
Penyakit sinusitis dapat menyerang itik dewasa sehingga dapat menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Penyakit ini dikarenakan tata laksana pemeliharaan yang buruk, kekurangan mineral dalam pakan dan tidak tersedianya kolam untuk bermain. Akibatnya itik menjadi renta mendapat infeksi sekunder. anda-tanda itik yang terserang penyakit ini adalah : terjadi pembengkakan sinus, dari lubang hidung keluar cairan jernih, sekresi mata menjadi berbuih, sinus yang membengkak menimbulkan benjolan di bawah dan didepan mata.
Pencegahan dapat dilakukan dengan tata laksana pemeliharaan yang baik. Pengobatan bagi iti yang sakit, adalah dengan menyuntikan antibiotika (streptomycin) ke dalam sinus yang sakit. Dosis pada itik dewasa adalah sebanyak 0,5 gram streptomycin yang dilarutkan ke dalam 20 cc aquadest. Larutan ini disuntikan ke dalam sinus. Untuk pengobatan yang lebih mudah, dosisnya dikurangi. Pengobatan seperti ini dilakukan sekali dalam 48 jam.

8.Aflatoksikosis
Aflatoksikosis yang menyerang itik pada umumnya disebabkan oleh “Aflatoksin” yang dihasilkan oleh “Asperqillus Flavus”. Aflatoksin menyerang hati, sehingga itik yang terserang penyakit ini hatinya membersar.
Tanda-tanda itik yang terserang penyakit ini adalah : kondisi sangat lemah, terjadi pendarahan di bawah kulit dan jari, terhuyun-huyun, akhirnya mati dalam posisi terlentang. Anak itik lebih muda terserang penyakit ini dibanding dengan itik dewasa. Pencegahan bisa dilakukan dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan kandang, penaburan kapur di lantai kandang, pembersihan kandang agar terbebas dari serangga. Pengobatan hanya dapat diusahakan dengan memberikan antibiotika yang dicampurkan dalam air minum atau pakan.


Demikianlah artikel menegenai Berbagai Jenis Penyakit Pada Itik Dan Cara Mengatasinya, semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi para peternak, sekian dan terima kasih.

Senin, 08 September 2014

Diagnosa Penyakit Itik

Diagnosa Penyakit Itik - Salah satu keberhasilan dalam usaha peternakan itik adalah memiliki itik-itik yang sehat dengan produksi tinggi baik telur maupun daging. Untuk itu peternak harus pandai dalam menjaga kesehatan ternaknya, serta memiliki keterampilan agar dapat dan mampu mengetahui dengan tepat seperti apa penyakit yang sedang menyerang itiknya. Serta keterampilan apa yang harus dikuasai peternak agar mudah dalam menentukan ternaknya yang sedang sakit.

Agar dapat menentukan penyakit yang menyerang itiknya atau bagaimana membuat sebuah diagnosa dengan tepat, tentu saja dibuthkan pendidikan yang khusus, pengalaman serta bantuan dari hasil pemeriksaan laboratorium oleh mereka yang ahli.

Sedangkan bagi peternak, kemampuan dan keterampilan yang perlu dimiliki antara lain adalah :
Kemampuan dalam membedakaan penampilan atau ciri-ciri itik yang sehat dengan itik yang sakit.
Peternak bisa menentukan bagian tubuh itik yang sedang mengalami kelainan.
Dapat membedakan fases (kotoran) itik yang sedang sakit.
Mampu mengambil langkah pertolongan pertama yang harus segera dilakukan.
Memahami dan mengetahui tempat atau instansi sebagai tempat konsultasi bila terjadi serangan penyakit pada itik.
Mampu menyiapkan informasi sebagai bahan konsultasi agar memudahkan petugas dalam menggambarkan jenis penyakit sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut.

Kemampuan dan keterampilan seperti tersebut di atas bisa dimiliki oleh peternak jika sering mempehatikan tingkah laku ternaknya, melihat dan membaca dari media massa/elektronik, buku, penyuluhan dan sebagainya.

Ciri-Ciri Itik Sakit

Agar dapat menentukan itik sakit lebih sulit dibandingkan dengan melihat gejala ayam sakit. Adapun tanda-tanda yang dapat diamati jika itik sedang sakit adalah nafsu makannya mendadak turun padahal pakannya tidak berubah. Bila itik mencret atau terdapat perubahan pada bagian tubuhnya, itu berarti penyakitnya sudah berlanjut, tetapi belum tentu parah.

Bila melihat tanda-tanda tersebut, patut dicurigai bahwa itik mungkin sedang sakit, sebaiknya segera diambil tindakan yaitu dengan memisahkan itik yang sakit dan menempatkannya di dalam kandang khusus (karantina) jauh dari itik yang sehat. Langkah selanjutnya adalah segera membersihkan tempat makan/minum, lantai/alas kandang dan tempat umbar itik dari fases. Alangkah lebih baik jika dilakukan penyemprotan dengan desinfektan.

Dampak Penyakit Itik

Penyakit yang menyerang itik dapat juga menimbulkan penyakit pada manusia, contohnya adalah penyakit yang disebabkan oleh Salmonella. Penularannya tidak secara langsung tetapi melalui telur yang kita konsumsi. Selain itu, penyakit influensa pada itik dapat juga menular pada manusia.

Mencegah Penyakit

Umumnya peternak pemula kurang memahami cara menangani itik yang sakit. Tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan jika ternaknya sakit dan hal lainnya. Jadi jika itik mengalami serangan penyakit yang parah, sebaiknya segera dimusnahkan. Sedangkan pencegahan terhadap satu jenis penyakit tidak menjamin perlindungannya terhada jenis penyakit lain. Demikian artikel mengenai Diagnosa Penyakit Itik Semoga bermanfaat.

Sumber :

Hardjosworo,Peni,Prof.Dr.Dra.Msc,Rukmiasi,M.S, Itik, Permasalahan dan Pencegahan,Jakarta: Penebar Swadaya,2001


Rabu, 03 September 2014

New Castel Disease atau Tetelo

New Castel Disease atau Tetelo - Penyakti tetelo atau biasa juga disingkat ND adalah penyakit akut pada unggas yang menular secara cepat dan menyebabkan timbulnya gangguan pernapasan yang sering diikuti oleh gangguan syaraf serta diare yang bisa berujung pada kematian unggas.

Penyebab penyakit ND
Virus paramyxo yang bervariasi keganasannya:
  • Sangat tinggi (velogenik)
  • Cukup tinggi (mesogenik)
  • Sangat rendah (lentogenik)
Penularan
  • Melalui lender dan kotoran ayam sakit
  • Melalui pakan, air minum yang tercemar
  • Melalui burung piaraan atau burung liar
Gejala klinis
Tergantung pada keganasan virus
  • Infeksi virus lentogenik menunjukkan gejala ringan
    • Penurunan produksi telur
    • Tidak terjadi gangguan syarat
  • Infeksi virus mesogenik
    • Gangguan pernapasan (sesak napas, megap-megap, batuk dan bersin)
    • Produksi telur menurun
    • Kelainan bentuk telur dan daya tetasnya menurun
    • Angka kematian mencapai 10%
  • Infeksi virus velogenik
    • Kehilangan nafsu makan
    • Lesu
    • Sesak nafas
    • Megap-megap
    • Ngorok
    • Bersin
    • Ayam mungkin menderita kelumpuhan sebagian atau total
    • Sering terjadi tertikolis
    • Produksi telur menurun
    • Balung dan pial berwarna kebiru-biruan
    • Muka bengkak
    • Angka kematian mencapai 100%
Pencegahan dan Pengobatan
  • Vaksinasi ND secara teratur
  • Ayam yang terjangkit penyakit ini harus dimusnahkan karena dapat bertindak sebagai sumber pencemaran dan penular.

Flu Burung dan Penanganannya

Flu Burung dan Penanganannya - Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan melalui unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas di konfirmasi telah menjangkiti banyak negara diantaranya di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia hingga Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.

Di Indonesia sendiri pada bulan Januari 2004 di laporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa. Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh karena virus new castle, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus flu burung (Avian influenza (AI)). Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4,77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah propinsi Jawa Barat (1.541.427 ekor).

Pada bulan Juli 2005, penyakit flu burung telah merenggut tiga orang nyawa warga Tangerang Banten, Hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong.

Penyebab
Penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A . Virus influenza termasuk famili Orthomyxoviridae. Virus influenza tipe A dapat berubah-ubah bentuk (Drift, Shift), dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemi. Virus influenza tipe A terdiri dari Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N), kedua huruf ini digunakan sebagai identifikasi kode subtipe flu burung yang banyak jenisnya. Pada manusia hanya  terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1, H9N2, H1N2, H7N7. Sedangkan pada binatang H1-H5 dan N1-N9.

Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220 C dan lebih dari 30 hari pada 00 C. Virus akan mati pada pemanasan 600 C selama 30 menit atau 560 C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine.

Gejala
Gejala flu burung dapat dibedakan pada unggas dan manusia.
  1. Gejala pada unggas.
    • Jengger berwarna biru
    • Borok dikaki
    • Kematian mendadak
  2. Gejala pada manusia.
    • Demam (suhu badan diatas 38o C)
    • Batuk dan nyeri tenggorokan
    • Radang saluran pernapasan atas
    • Pneumonia
    • Infeksi mata
    • Nyeri otot
Masa Inkubasi
  • Pada Unggas : 1 minggu
  • Pada Manusia : 1-3 hari , Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari .
Penularan
Flu burung menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas ke manusia, penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika manusia telah menghirup udara yang mengandung virus flu burung atau kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung. Sampai saat ini belum ada bukti yang menyatakan bahwa virus flu burung dapat menular dari manusia ke manusia dan menular melalui makanan.

Pencegahan
  1. Pada Unggas:
    • Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung
    • Vaksinasi pada unggas yang sehat
  2. Pada Manusia :
    • Kelompok berisiko tinggi ( pekerja peternakan dan pedagang)
      • Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
      • Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinsfeksi flu burung.
      • Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja).
      • Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja.
      • Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
      • Imunisasi.
    • Masyarakat umum
      • Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.
      • Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
        • Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)
        • Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ± 640C selama 4,5 menit.
Pengobatan
Pengobatan bagi penderita flu burung adalah:
  1. Oksigenasi bila terdapat sesak napas.
  2. Hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus).
  3. Pemberian obat anti virus oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 7 hari.
  4. Amantadin diberikan pada awal infeksi , sedapat mungkin dalam waktu 48 jam pertama selama 3-5 hari dengan dosis 5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 2 dosis. Bila berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari.
Demikian artikel mengenai Flu Burung dan Penanganannya semoga bermanfaat. Salam ternak.